Lingkungan

Rabu, 07 Desember 2011

“BANGKA BELITUNG PASCA PENAMBANGAN TIMAH”



Timah tidak bisa dipisahkan dari masyarakat Bangka Belitung karena timah merupakan mata pencaharian utama bagi mayoritas masyarakat, dan bisa dikatakan emasnya Bangka Belitung. Selain dari timahnya, Bangka Belitung juga dikaruniai panorama alam yang sangat indah, yang tidak kalah indahnya dengan Pulau Dewata. Hanya saja pemerintah, pengusaha dan stakeholder yang tidak sadar dan tidak bisa memanfaatkan kelebihan ini untuk kemajuan daerah dan kesejahteraan masyarakatnya. Kalau saja semuanya mau, dengan keduanya ini Bangka Belitung bisa menjadi daerah yang maju. Sebab Allah telah memberikan apa yang tidak diberikan Allah kepada daerah lain.
 Kalau bicara kehidupan, pasti semuanya tergantung kepada Allah Azzawajallah, tidak ada yang bisa memprediksi bagaimana kehidupan manusia tanpa timah atau bahkan tanpa dunia ini sekalipun, semuanya bisa hidup karena izin Allah. Mengapa kita harus takut menjalaninya, toh semua tergantung kepada individu masing-masing. Mau bagaimana kehidupan seseorang tergantung dari seberapa besar kemauan atau ikhtiar orang tersebut untuk memperbaiki kehidupannya. Sebab yang bisa merubah nasib suatu kaum itu adalah kaum itu sendiri.
 Maksud saya disini timah janganlah dijadikan alasan kita buat saling menjatuhkan atau menjelekkan antara satu dengan yang lain apalagi menjelekkan pemimpin, karena sudah kodratnya sebaik apapun kebijakan yang diambil seorang pemimpin tetap saja menimbulkan pro dan kontra terhadap kebijakan tersebut. Selama itu baik dan sesuai dengan norma-norma yang ada, masyarakat wajibkan mendukung, persetan dengan lawan-lawan politiknya. Sebab orang-orang yang tidak menerima kekalahan inilah yang akan membuat suatu bangsa selalu tertinggal, tapi unkapan ini jangan pula disalah artikan, sebab kita sebagai masyarakat juga berkewajiban untuk mengingatkan pemimpin kita. Apalagi yang terjadi beberapa waktu yang lalu pemerintah, pengusaha dan stakeholder malah sibuk dengan urusan pribadi mereka masing-masing, memikirkan hal-hal yang sebenernya tidak begitu penting untuk di urus, sudahlah kasian masyarakat hanya menjadi korban. Masyarakat sudah bosan dengan cerita-cerita perselisihan-perselisihan antara gubernur dengan walikota, atau walikota dengan sekda dan beberapa pejabat lainnya. Masih banyak yang harus kita lakukan, daripada memikirkan itu.
 Seperti yang sudah dijelaskan diatas selain timah, BABEL punya panorama alam yang indah dan ditambah lagi dengan hasil perkebunannya (Lada putih) yang sudah dikenal jauh sebelum timah menjadi icon mata pencaharian Bangka Belitung. Jadi kenapa kita harus bingung dengan kehidupan pasca tambang. Masih banyak yang bisa kita lakukan antara lain memberdayakan tanah dan kolong-kolong pasca tambang, dan itu semua selaras dengan RTRW nasional Pulau Bangka Belitung yaitu menjadi kawasan  andalan pariwisata, pertanian, perikanan, kelautan. Memang tidak bisa dipungkiri tanah dan kolong-kolong pasca tambang tidak bisa langsung digunakan untuk perkebunan dan peikanan, karena butuh waktu untuk itu. Tapi jangan dijadikan alasan, toh sekarang UBB (Universitas Bangka Belitung) dan BBG (Bangka Botanical Garden) sudah mulai dan bahkan sudah berhasil dalam memberdayakan itu semua, jadi tunggu apalagi, tinggal mengembangkannya saja, saya yakin pemerintah konsen dan mempunyai banyak dana untuk itu, tapi sekarang yang jadi pertanyaan berani atau tidak pemerintah mengeluarkan kebijakan untuk itu. Atau jangan-jangan uangnya sudah jatuh ketangan orang-orang yang tidak bertanggung jawab!! mudah-mudahan prediksi ini  tidak benar. Amin. Kalau itu semua sudah dilakukan dan dijalankan dengan baik saya yakin,  walaupun timah di BABEL, katakanlah habis, masyarakat bisa hidup dengan itu semua, toh mereka sudah pernah mengalami kehidupan dengan berkebun dan lain-lain. Kenapa kita harus bingung dengan semua itu. Tinggal bagaimana caranya pemerintah melakukan pendampingan dan penjelasan kepada masyarakat tentang itu semua, jangan setelah timah habis baru mulai melakukan perbaikan. Itu yang membuat kita kelabakan menghadapinya.
 Mulailah berfikir bijak, hilangkanlah ego-ego yang ada, mari duduk bersama untuk mencari solusi yang bener-bener afdol untuk kemajuan daerah tercinta ini. Karena siapa lagi yang akan memanjukan daerah ini kalau bukan kita. Jadi buat apa ego ini terus dipertahankan, toh harta dan jabatan tidak semahal nyawa yang diberikan Allah kepada kita. Kalau ajal telah menjemput tidak berguna lagi harta dan jabatan, semuanya pasti ditinggalkan dan hanya akan menjadi sejarah kelam bagi seorang pemimpin. Dan itu semua pasti dipinta pertanggung jawabannya dihadapan Allah. Selagi Allah masih memberikan kesempatan, berbuatlah untuk daerah tercinta ini walau hanya sedikit!! Trimakasih..Wassallambilmaaf..


LEBIH BAIK SEDIKIT BERBUAT DARI PADA TIDAK SAMA SEKALI